Kamis, 16 Mei 2013

Sejarah balet

nah.. untuk mempermudah kamu yang tertarik dengan tarian ballet, nih saya bagikan seputar info (Sejarah) singkat dari tarian balet.

 

 
teknik ini dinamakan balet, dan meliputi: tarian itu sendiri, mime, akting, dan musik (baik musik orkestra ataupun nyanyian). Balet dapat ditampilkan sendiri atau sebagai bagian dari sebuah opera. Balet terkenal dengan teknik virtuosonya seperti pointe work, grand pas de deux, dan mengangkat kaki tinggi-tinggi. Teknik balet banyak yang mirip dengan teknik anggar, barangkali karena keduanya mulai berkembang dalam periode yang sama, dan juga karena keduanya membutuhkan teknik keseimbangan dan pergerakan yang mirip.
Istilah ballo pertama kali digunakan oleh Domenico da Piacenza (dalam De Arte Saltandi et Choreas Ducendi), sehingga karyanya dikenal sebagai balleti atau balli yang kemudian menjadi ballet. Istilah ballet itu sendiri dicetuskan oleh Balthasar de Beaujoyeulx dalam Ballet Comique de la Royne (1581) yang merupakan ballet comique (drama ballet). Pada tahun yang sama, Fabritio Caroso menerbitkan Il Ballarino, yaitu panduan teknis mengenai menari balet, yang membuat Italia menjadi pusat utama berkembangnya tari balet.

Sejarah balet
Balet berakar pada acara pertemuan para ningrat Italia pada masa pencerahan. Selanjutnya, balet dikembangkan dalam ballet de cour, yaitu dansa sosial yang dilakukan bersama musik, pidato, berpuisi, nyanyian, dekor, dan kostum oleh para ningrat Prancis. Balet kemudian berkembang sebagai bentukan seni tersendiri di Prancis pada masa pemerintahan raja Louise XIV yang sangat mencintai seni tari dan bertekad untuk memajukan kualitas seni tari pada masa itu. Sang raja mendirikan Académie Royale de Danse pada tahun 1661, dan pada tahun yang sama, balet komedi karya Jean-Baptist Lully ditampilkan. Bentuk balet awal berupa sebuah seni panggung di mana adegan-adegannya berupa tarian. Lully lalu mendalami balet opera dan mendirikan sekolah untuk mendidik penari balet profesional yang berhubungan dengan Académie Royale de Musique. Di sekolah tersebut, sistem pendidikannya berdasarkan tata krama ningrat.
Abad ke-18 merupakan periode di mana standar teknis balet menjadi sangat maju. Pada masa ini pula balet menjadi bentukan seni drama yang serius dan setara dengan opera. Kemajuan ini disebabkan oleh karya penting dari Jean-Georges Noverre yang berjudul Lettres sur la danse et les ballets (1760), yang merintis berkembangnya ballet d'action di mana penari diharuskan mengekspresikan karakter dan menampilkan narasi cerita. Musik balet itu sendiri berkembang sangat pesat pada masa itu oleh komponis seperti Christopher Gluck. Pada akhir masa itu, opera menjadi terbagi tiga teknik formal yaitu sérieux, demi-caractère dan comique, dan balet turut menjadi bagian di dalam opera sebagai pengantar adegan yang diistilahkan sebagai divertissements.
Abad ke-19 merupakan periode di mana banyak terjadi perubahan sosial. Perubahan ini juga tercermin dalam balet, yang bergeser jauh dari bentukan seni yang sangat ningrat (Balet romantik). Ballerina seperti Marie Taglioni dan Fanny Elssler merintis teknik baru berupa pointe work yang menyebabkan peran ballerina (penari balet wanita) menjadi sangat penting di atas panggung. Sementara itu, para librettist profesional mulai memasukkan cerita dalam balet, dan guru balet seperti Carlo Blasis mengkodifikasi teknik balet sehingga menjadi teknik dasar yang masih digunakan hingga sekarang. Balet mengalami penurunan pamor setelah 1850 di kebanyakan negara barat selain Denmark dan Rusia (berkat para master seperti August Bournonville, Jules Perrot, dan Marius Petipa). Sanggar balet Rusia, terutama setelah Perang Dunia II, banyak melakukan tur keliling dunia sehingga menjaga balet tetap hidup di dunia dan banyak dikenal oleh masyarakat umum
Menari en pointe atau dikenal juga sebagai pointe work, adalah berjinjit hingga ujung jari kaki sembari melakukan gerakan-gerakan balet. Teknik ini dilakukan dengan sepatu khusus yang berujung keras, yang bernama point shoes. Teknik ini memerlukan kekuatan dan keahlian yang besar dari seorang penari balet, dan juga merupakan tujuan utama bagi seorang penari balet wanita (balerina). Meskipun nampak sangat halus, sebenarnya teknik ini sangat menyakitkan dan dapat menyebabkan cedera kaki.
Pada tahun 1832 balerina Marie Taglioni menarikan sebuah karya romantik berjudul La Sylphide dengan teknik en pointe. Ia dikenal sebagai perintis teknik ini. Pada mulanya Marie Taglioni melakukan teknik ini dengan sepatu balet lembut biasa (soft shoes) yang diperkuat jahitan jarinya.
Selain balet romantik, jenis tarian lain juga menggunakan langkah-langkah pendek di atas jari kaki, misalnya tarian jazz, tarian jalanan (street dance) dan tap dance. Dalam tap dance teknik ini dikenal sebagai toe stand.
Sekitar tahun 1920-1930-an, Harriet Hoctor, seorang penari panggung komedi, mengenakan sepatu pointe yang diengkapi sol dan ujung besi, agar dapat mengetuk dan menekuk sembari berada dalam posisi en pointe. Penari lain bahkan memasukan gotri di ujung sepatu mereka agar dapat berputar lebih cepat, namun praktik ini dihentikan karena berisiko tinggi dengan patahnya sol sepatu besi tersebut.
Penari balet masa kini mengenakan sepatu pointe dari satin dengan sol yang bisa ditekuk, dan ujung jari yang terbuat dari kanvas, serat hessian, kertas, dan lem. Karena sepatu ini sangatlah kaku saat masih baru, para penari melenturkan sepatu itu dengan berbagai macam cara: mulai dari menghantamkan sepatu itu ke atas beton, meremasnya dengan kusen pintu, atau memijat-mijatnya dengan tangan.
Karena pointe work bisa menyakitkan, para penari mencoba berbagai cara untuk menghindari lecet dan patah kuku. Penari pemula biasanya menggunakan alas jari yang terbuat dari kain tebal atau dari wol. Penari profesional menggunakan alas jari seminimal mungkin atau tidak sama sekali, untuk memberikan mereka kebebasan bergerak.
Sebelum mulai belajar pointe work, beberapa penari menggunakan sepatu demi-pointe (setengah pointe). Sepatu ini, yang juga disebut sepatu pre-pointe atau soft block, memiliki karakteristik seperti halnya sepatu balet yang lembut (soft shoes), dengan sol yang lemas, namun penampilan luarnya serupa dengan pointe shoe. Bagian ujung jari dirancang persis sama seperti sepatu pointe. Karena sepatu demi-pointe tidak memiliki sol keras yang penting dalam mendukung penari en pointe, sepatu ini tidak cukup aman untuk digunakan menari en pointe. Fungsi sepatu demi-pointe ini lebih untuk membiasakan penari dengan rasa-nya memakai sepatu pointe saja, sebelum si penari mulai benar-benar menari en pointe.
Seorang penari yang ingin menari en pointe harus memiliki badan yang cukup kuat, kalau tidak kaki, lutut dan sendinya dapat cedera. Menari en pointe hanya boleh dilakukan kalau si penari sudah berumur sebelas tahun. Kalau lebih muda dari itu, tulang kaki belum benar-benar terbentuk, dan kaki bisa-bisa menjadi cacat.
Menari en pointe memerlukan dukungan seluruh badan, termasuk otot kaki dan otot perut. Latihan seperti releve sangat membantu dalam pemanasan.
 
"point"

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar